Tampilkan postingan dengan label Wisata Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Malang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

PESONA BROMO

Obyek wisata gunung Bromo merupakan tujuan wisata favorit bagi wisatan lokal maupun manca negara. Kemegahan dan daya tariknya begitu memikat bagi siapapun untuk mengunjunginya.

Gunung Bromo berasal dari kata Brahma (salah seorang Dewa agama Hindu). Bromo merupakan gunung api yang masih aktif dan terkenal sebagai icon wisata Jawa Timur. Gunung ini tidak sebesar gunung api lainnya di Indonesia tetapi memiliki pemandangannya yang spektakuler dan dramatis. Keindahannya yang luar biasa membuat wisatawan yang mengunjunginya akan berdecak kagum.


Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m, wisatawan dari seluruh dunia datang untuk melihat sunrise Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan dan yang akan Anda dengar hanya suara jepretan kamera wisatawan saat menangkap momen yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Saat sunrise sangat luar biasa dimana Anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang naik ke langit.


Menyaksikan matahari terbit yang spektakuler dari Gunung Bromo merupakan puncak dari wisata di Bromo.
Menikmati hamparan lautan pasir luas, menyaksikan kemegahan Gunung Semeru yang menjulang menggapai langit, serta menatap indahnya Matahari beranjak keluar dari peraduannya atau sebaliknya menikmati temaram senja dari punggung bukit Bromo adalah pengalaman yang takan terlupakan saat menyambangi Bromo.

Berkuda di atas lautan pasir yang hanya dimiliki taman nasional ini merupakan pengalaman tak berbanding. Lautan pasir ini begitu luas dan dengan ketinggian 2.392 meter, keunikan alam ini hanya ada di Indonesia. Lautan pasir ini terlihat mengagumkan saat matahari menyapukan sinarnya yang kejinggaan di pagi hari, terlihat jelas dari Cemorolawang, salah satu pintu masuk kawasan taman nasional ini.


Datanglah pada bulan Kasada/ke-sepuluh (biasanya bulan September-November) dan saksikan festival Kasada tahunan dimana suku Tengger datang ke Bromo melemparkan sesajen yang terdiri dari sayuran, ayam, dan uang ke dalam kawah gunung berapi.
Gunung Bromo dihuni oleh masyarakat suku Tengger yang meyakini bahwa Gunung Bromo merupakan tempat dimana seorang pangeran mengorbankan hidup untuk keluarganya. Masyarakat di sini melakukan festival Yadnya Kasada atau Kasodo setahun sekali dengan mempersembahkan sayuran, ayam, dan uang yang dibuang ke dalam kawah gunung berapi untuk dipersembahkan kepada dewa.

Senin, 19 Januari 2015

AIR TERJUN COBAN RONDO MALANG


Air terjun ini terletak di desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Malang Jawa timur. Coban ini memiliki ketinggian 85 meter, dan berada di ketinggian 1.135 m dari permukaan air laut. Pada bagian atas coban ini terdapat air terjun kembar, bernama coban manten, yang menyatu menjadi coban dudo dan mengalir ke bawah menjadi coban rondo. Sumber air dari ketiga air terjun ini berada di atas coban manten, suatu dataran tanpa pohon satu biji pun di daerah kepundan. Perjalanan ke mata air ini membutuhkan perjuangan ekstra karena medan yang licin dan jarak yang lumayan jauh (3-4 km).


Legenda di balik penamaan air terjun ini sudah tersiar luas. Berawal dari sepasang pengantin baru bernama Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang ingin melakukan perjalanan ke Gunung Anjasmoro, konflik berawal ketika keinginan itu ditentang orangtua Dewi Anjarwati karena usia pernikahan mereka yang baru memasuki Selapan (36 hari dalam bahas jawa). Akan tetapi mereka bersikeras dan akhirnya bahaya pun ditemui di tengah jalan. Entah dari mana, muncullah Joko Lelono yang terpikat kecantikan Dewi Anjarwati. Perkelahian pun tak terelakkan. Raden baron Kusumo lantas memerintahkan punokawannya untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di sebuah coban (air terjun) dan di saat akhirnya pertarungannya dengan Joko Lelono berbuah kematian keduanya, tinggallah Dewi Anjarwati menjadi janda (rondo).Hingga akhirnya tempat persembunyian Dewi Anjarwati disebut sebagai Coban Rondo.

Mitos yang berkembang di tempat ini adalah jika datang ke tempat ini bersama kekasih, hubungan mereka akan kandas. Entah apakah kebenarannya dapat ditelusuri, akan tetapi yang jelas, pastilah mitos ini didasari dan terinspirasi dari kisah Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo. Meskipun hanya mitos, wacana ini pastilah terlintas di benak pengunjung dan bagi orang-orang yang percaya hal-hal mistis dan supranatural sebagai bahan pertimbangan ulang untuk plesir mengunjungi tempat ini.


Berkaitan dengan mitos dan hal-hal mistis, tiap tempat wisata pastilah memiliki pantangan sendiri. Dan tentu saja begitu pula dengan Coban Rondo. Larangan ini tidak tertulis dengan gamblang, akan tetapi masyarakat sekitar mematuhinya dengan rasa tunduk luar biasa karena kepercayaan mereka terhadap makhluk halus penunggu coban. Aturan-aturan dasar seperti dilarang berkata kotor, buang sampah sembarangan, buang air sembarangan, dan lain-lain bagai terpatri di benak masyarakat.

Meski diselimuti oleh legenda, mitos, dan cerita-cerita "halus" Coban Rondo tetap memiliki pesona sendiri. Sebagai surga bagi pelancong dan turis yang akan terhanyut oleh sejuknya air dari air terjun janda Dewi Anjarwati.